Semua Tentang Bola | Members area : Register | Sign in

Other Post :

Video Asyik :

Tak Sportif :

Info Artis :

Hari ini,

PSSI Dinilai Terlalu Patuh Pada Donatur

Share Artikel :
Kisruh PSSI jilid II merupakan cermin peta politik
bangsa Indonesia. Disaat kepentingan anggota
PSSI tidak terakomodir, akhirnya memantik
banyak pihak yang kecewa dengan kebijakan
PSSI. Maka lahirlah dualisme kompetisi yang
berujung menjadi ajang saling mematikan antara
pengurus PSSI dengan anggotanya.
”Seperti itu juga realitas politik yang terjadi tanah
air,” kata pengamat sepak bola nasional Ari
Junaidi kepada INDOPOS (Grup JPNN) kemarin.
Ari menilai, kesalahan PSSI pimpinan Djohar
Arifin Husin ini terlalu menghamba kepada
"dewan syuro" yang saat ini menjadi penyandang
dana atau donatur PSSI.
Kepentingan-kep entingan bahkan keputusan PSSI
pun sangat terlihat menguntungkan sebelah
pihak. "Selalu membela kepentingan Jenggala. Ini
blunder yang sangat tidak bisa ditolerir. Maka
muncullah desakan KLB," kata pria yang juga
dosen Universitas Gajah Mada itu.
Kisruh PSSI ini sebenarnya masih bisa
diselamatkan dengan secepatnya, imbuh Ari,
salah satunya adalah dengan mempertemukan
pihak yang berseteru yakni pihak Djohar Arifin
dengan jenggalanya, dan pihak yang ingin KLB
beserta PT Liga Indonesia.
"Dengan mediator mahasiswa atau masyakarat
sepak bola. Tapi saya pribadi memprediksi hal ini
tetap tidak akan ada titik temu. KLB tetap
menjadi solusi. Ini benar-benar menyedihkan
untuk sepak bola Indonesia," keluhnya.
Hal senada diungkapkan oleh Isman Jasulmei.
Pelatih yang mahir menelurkan pemain-pemain
muda ini mengaku miris dengan kondisi sepak
bola Indonesia. Dia juga sangat menyayangkan
jika perangkat pelatih atau siapapun pelaku
sepak bola di lapangan turut campur dalam
polemik saat ini. "Tentu sebagai pelatih
seharusnya bagaimana menjaga pemain agar
tidak menjadi korban permasalahan PSSI. Lebih
baik kita fokus mati-matian di pembinaan
pemain," kata Isman. Jangankan untuk masuk
piala dunia, menjadi raja Asia Tenggara saja
Indonesia sudah sangat kesulitan dan selalu
menjadi tim pecundang.
Ucapan Isman ternyata langsung dibuktikan.
Program menciptakan prestasi di sepak bola
Indonesia mulai terkena dampaknya. Itu setelah,
niat PSSI mengumpulkan 20 pelatih yang
diproyeksikan menggantikan Rahmad "RD"
Darmawan sebagai pelatih timnas urung digelar,
Selasa (20/12). Alasannya, adanya rapat
mendadak Komite Eksekutif (Exco) PSSI.
PSSI berencana mengumpulkan 20 pelatih yang
melatih klub peserta Indonesia Premier League
(IPL) 2011/2012 dan yang tengah menganggur
untuk mengisi kursi pelatih kepala timnas U-23
yang ditinggalkan RD. Menurut jadwal, acara itu
akan digelar di Hotel Century pada Selasa
(20/12). Namun, jadwal itu urung dilaksanakan.
"FIFA sudah mengeluarkan keputusannya terkait
pasal 79 Statuta FIFA yang melarang pemain
yang bermain di kompetisi yang diakui PSSI
untuk membela timnas. Jadi, Exco PSSI harus
segera menggelar rapat untuk membahas
masalah itu," ujar anggota Komite Eksekutif
(Exco) PSSI bidang Timnas Bob Hippy, kepada
wartawan kemarin.
"Keputusan itu dikeluarkan FIFA lewat pertemuan
kami di Jepang pada Minggu (18/12)," lanjut Bob.
Selain itu, lanjut Bob, gagalnya 20 calon pelatih
timnas itu berkumpul karena sebagian besar
diantara mereka pun tidak bisa ke Jakarta.
"Banyak juga pelatih yang tidak bisa hadir. Jadi,
kami memilih untuk mengundur pertemuan itu,"
jelas Bob
De originele berichten zijn hier