*) Jalur khusus diperlukan untuk membantu pemain sepakbola yang tersisih. Mereka harus dapat menghindari dinas sosial.

“Bukan rasa iri lagi yang menjadi masalah. Kenyataan bahwa mereka pengangguran lebih menyakitkan,” ungkap Marieke Pol dari biro konsultasi Sport United. Danny Hesp, Ketua Serikat Sepakbola Belanda VVCS dan mantan atlet sepakbola profesional memberikan pernyataan serupa. “Setiap tahun sekitar 150 pemain sepakbola kehilangan pekerjaan mereka. Benny Dekker beralih ke dunia garmen dengan merek dagangnya Vingino dan Hans van Breukelen sekarang menjabat direktur sebuah biro konsultasi. Namun, banyak pula rekan mereka yang kurang beruntung dan harus hidup dari tunjangan sosial. Seringkali mantan pemain bola menghadapi masalah finansial dan emosional. Mereka tidak siap menerima kenyataan pahit,” ujar Hesp.
Mulai Juli 2008, eks pebola profesional dapat mengikuti proyek reintegrasi yang dibentuk oleh Sport United dan VVCS. Dinas Sosial Belanda CWI juga mensubsidi proyek ini. Setiap tahun, sekitar 50 pemain sepak bola yang menganggur akan dibantu ‘pindah haluan’. Sejauh ini, 30 orang sudah mendaftar. Hesp beruntung, setelah karirnya di klub Ajax dan RBC Roosendaal, ia dapat bekerja di ‘lahan normal’. “Budaya sepakbola sudah begitu melekat. Eks pemain bola tidak biasa kerja mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore. Mereka hidup dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya,” terang Hesp.
“Mantan pebola profesional juga kerap menghadapi masalah dengan dana pensiun mereka. Pemain tenar internasional berpenghasilan 2 juta euro setiap tahun, namun pemain kelas menengah harus puas dengan 50 ribu euro per tahun. Bahkan, sebagian besar berpenghasilan tidak lebih dari gaji rata-rata minimum,” tambah Hesp. Selain itu, kurangnya pendidikan dan pengalaman kerja juga mempersulit mantan pemain bola memperoleh pekerjaan.
Marieke Pol: “Mayoritas akan berkata ‘Saya tidak bisa apa-apa selain sepakbola’. Proyek reintegrasi membantu mereka menghapus stigma ini. Risiko terbesar bagi mantan pemain profesional adalah terluka berat pada latihan atau pertandingan. Mereka harus berhenti mendadak dan seakan terjerumus di lembah hitam. Secara psikologis juga amat berat karena berarti akhir karir sepakbola mereka.” Sebenarnya sudah ada latihan wawancara kerja, namun menurut Pol hal itu tidak lebih dari mengisi formulir pengangguran.
CWI memberikan jangka waktu selama setahun bagi mantan pebola profesional untuk kembali ke ‘jalur normal’, sedangkan pencari kerja lainnya diberi tenggat waktu setengah tahun. “Kelonggaran ini dapat dimengerti. Sebagian besar pesepakbola mengimpikan menjadi bintang sejak umur 8 tahun. Mereka perlu waktu lebih lama untuk menelan pil pahit ini,” terang Farzad Lajmiri dari CWI. Menurut Lajmiri, proyek ini seharusnya tidak hanya dibatasi untuk pemain sepakbola saja. CWI mempertimbangkan akan bekerja sama dengan Komite Olimpiade Belanda NOC*NSF.
“Mantan atlet top lainnya mungkin lebih mudah meniti karir di bidang lain daripada pemain sepakbola. Biasanya mantan atlet cabang olahraga selain sepakbola berpendidikan cukup dan mereka sadar tidak dapat mengandalkan gaji mereka dari pertandingan untuk hidup sehari-hari. Mereka mempunyai pekerjaan sampingan dan secara tidak langsung menimba pengalaman dari pekerjaan tambahan mereka itu,” tandas Lajmiri.
Potret Tiga Pebola Tersisih: Garritsen, Jacobs, dan Heije

‘Pemain profesional atau mahasiswa’
Koen Garritsen (25)
Mulai berlaga di klub PSV sejak berusia 18 tahun, kini bertanding untuk FC Zwolle.
“Saya pindah dari PSV ke AGOVV bersama Klaas-Jan Huntelaar. Ia naik ke puncak gunung, sedangkan saya tenggelam tidak dikenal. Setelah AGOVV saya bermain di Fortuna Sittard. Tahun lalu saya resmi menganggur. Untungnya, setelah liburan musim dingin saya boleh bermain selama setengah tahun di FC Zwolle, tetapi gaji saya jauh dari cukup. Saya menerima penghasilan kotor 2000 euro setiap bulan dan kadang uang ekstra jika klub saya menang. Saya kembali lagi dan tinggal di rumah orang tua saya. Dulu saya berpenghasilan sekitar 46 ribu euro per tahun. Saya sudah mengajukan penyesuaian gaji, tetapi sepertinya tidak akan dikabulkan. 31 Agustus nanti saya akan mendapat kabar dan harus memutuskan apakah seterusnya berhenti dari sepakbola. Saya tidak ingin bekerja di pabrik. Belum lama ini saya mengikuti tes psikologi. Hasil tes menyebutkan, saya dapat melanjutkan kuliah di bidang manajemen, ekonomi atau hukum. Sewaktu saya bermain full-time, jadwal saya hanya terdiri dari latihan diselingi istirahat. Waktu senggang saya isi dengan tenis meja atau duduk di depan TV. Sekarang saya menyesal, waktu yang terbuang itu sebenarnya dapat saya pergunakan untuk belajar.”
‘Tidak biasa jadi pengangguran’
Bas Jacobs (28)
Karirnya dimulai di Roda JC, musim pertandingan lalu bermain untuk Fortuna Sittard.
“April lalu saya membaca di harian Limburgse Dagblad bahwa kontrak saya tidak akan diperpanjang. Betul-betul amatir. Manajer saya baru memberitahukan secara pribadi sebulan kemudian. Saya memutuskan – bersama istri saya – berusaha mencari klub lain, minimal hingga akhir musim dingin nanti. Saya tidak punya ide akan berbuat apa lagi. Saya hanya lulusan sekolah menengah pertama dan sekolah kejuruan teknik. Sejak umur 10 tahun saya cuma tertarik dengan sepakbola. Olahraga adalah hidup saya. Saya berangan-angan bermain di klub internasional. Dua tahun silam – sewaktu berlaga untuk VVV – saya dilirik Inggris. Sayang, saya terluka serius dan harus dikandangkan selama 1,5 tahun. Saya tidak bisa lagi berprestasi optimal. Saat non-aktif sebenarnya saya sudah mulai swa-studi hotel-restoran-café, namun tidak selesai. Sewaktu bergabung dengan Fortuna Sittard saya berpenghasilan kotor 4000 euro per bulan. Aneh rasanya tiba-tiba jadi pengangguran. Ternyata masih ada dunia lain setelah sepakbola.”
‘Ijazah sekolah kejuruan tidak ada artinya’
Pascal Heije (28)
Mula-mula bermain untuk Ajax, kini sudah dua tahun tanpa klub.
“Debut saya dimulai 1999 di Stadion Arena sebagai pengganti Aron Winter. Setelah itu saya sempat bermain satu kali di Liga Utama Belanda. Sayang, waktu itu pelatih Hans Westerhof diganti oleh Co Adriaanse. Setiap pelatih mempunyai visi berbeda. Saya mulai pindah ke RBC, NEC dan Go Ahead Eagles dan klub amatir Willem II. Saya hanya memperoleh uang transpor dari Willem II. Sekarang, saya hidup dari tabungan dana pensiun. Saya tetap berusaha bergabung dengan klub bonafid. Saya pernah magang di Malaysia, Turki dan Austria. Hanya saja, hasilnya tidak memuaskan. Mana ada yang tertarik dengan ijazah sekolah kejuruan? Untungnya, saya dapat membantu bisnis kawan baik saya, Noordin Wooter. Wooter, eks pemain Ajax, memiliki butik dan sebuah klub yang mengorganisasi pertandingan persahabatan bagi anak cacat dan sejenisnya. Kadang saya frustasi. Secara teknis saya masih bermain amat baik seperti dulu. Nasib baik dan nasib buruk berjalan bergandengan.”
*) Sumber dan ilustrasi: Harian De Volkskrant “Ex-voetballers belanden in zwart gat” (19-07-2008)
Jaap - Amsterdam
De originele berichten zijn hier“Bukan rasa iri lagi yang menjadi masalah. Kenyataan bahwa mereka pengangguran lebih menyakitkan,” ungkap Marieke Pol dari biro konsultasi Sport United. Danny Hesp, Ketua Serikat Sepakbola Belanda VVCS dan mantan atlet sepakbola profesional memberikan pernyataan serupa. “Setiap tahun sekitar 150 pemain sepakbola kehilangan pekerjaan mereka. Benny Dekker beralih ke dunia garmen dengan merek dagangnya Vingino dan Hans van Breukelen sekarang menjabat direktur sebuah biro konsultasi. Namun, banyak pula rekan mereka yang kurang beruntung dan harus hidup dari tunjangan sosial. Seringkali mantan pemain bola menghadapi masalah finansial dan emosional. Mereka tidak siap menerima kenyataan pahit,” ujar Hesp.
Mulai Juli 2008, eks pebola profesional dapat mengikuti proyek reintegrasi yang dibentuk oleh Sport United dan VVCS. Dinas Sosial Belanda CWI juga mensubsidi proyek ini. Setiap tahun, sekitar 50 pemain sepak bola yang menganggur akan dibantu ‘pindah haluan’. Sejauh ini, 30 orang sudah mendaftar. Hesp beruntung, setelah karirnya di klub Ajax dan RBC Roosendaal, ia dapat bekerja di ‘lahan normal’. “Budaya sepakbola sudah begitu melekat. Eks pemain bola tidak biasa kerja mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore. Mereka hidup dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya,” terang Hesp.
“Mantan pebola profesional juga kerap menghadapi masalah dengan dana pensiun mereka. Pemain tenar internasional berpenghasilan 2 juta euro setiap tahun, namun pemain kelas menengah harus puas dengan 50 ribu euro per tahun. Bahkan, sebagian besar berpenghasilan tidak lebih dari gaji rata-rata minimum,” tambah Hesp. Selain itu, kurangnya pendidikan dan pengalaman kerja juga mempersulit mantan pemain bola memperoleh pekerjaan.
Marieke Pol: “Mayoritas akan berkata ‘Saya tidak bisa apa-apa selain sepakbola’. Proyek reintegrasi membantu mereka menghapus stigma ini. Risiko terbesar bagi mantan pemain profesional adalah terluka berat pada latihan atau pertandingan. Mereka harus berhenti mendadak dan seakan terjerumus di lembah hitam. Secara psikologis juga amat berat karena berarti akhir karir sepakbola mereka.” Sebenarnya sudah ada latihan wawancara kerja, namun menurut Pol hal itu tidak lebih dari mengisi formulir pengangguran.
CWI memberikan jangka waktu selama setahun bagi mantan pebola profesional untuk kembali ke ‘jalur normal’, sedangkan pencari kerja lainnya diberi tenggat waktu setengah tahun. “Kelonggaran ini dapat dimengerti. Sebagian besar pesepakbola mengimpikan menjadi bintang sejak umur 8 tahun. Mereka perlu waktu lebih lama untuk menelan pil pahit ini,” terang Farzad Lajmiri dari CWI. Menurut Lajmiri, proyek ini seharusnya tidak hanya dibatasi untuk pemain sepakbola saja. CWI mempertimbangkan akan bekerja sama dengan Komite Olimpiade Belanda NOC*NSF.
“Mantan atlet top lainnya mungkin lebih mudah meniti karir di bidang lain daripada pemain sepakbola. Biasanya mantan atlet cabang olahraga selain sepakbola berpendidikan cukup dan mereka sadar tidak dapat mengandalkan gaji mereka dari pertandingan untuk hidup sehari-hari. Mereka mempunyai pekerjaan sampingan dan secara tidak langsung menimba pengalaman dari pekerjaan tambahan mereka itu,” tandas Lajmiri.
Potret Tiga Pebola Tersisih: Garritsen, Jacobs, dan Heije
‘Pemain profesional atau mahasiswa’
Koen Garritsen (25)
Mulai berlaga di klub PSV sejak berusia 18 tahun, kini bertanding untuk FC Zwolle.
“Saya pindah dari PSV ke AGOVV bersama Klaas-Jan Huntelaar. Ia naik ke puncak gunung, sedangkan saya tenggelam tidak dikenal. Setelah AGOVV saya bermain di Fortuna Sittard. Tahun lalu saya resmi menganggur. Untungnya, setelah liburan musim dingin saya boleh bermain selama setengah tahun di FC Zwolle, tetapi gaji saya jauh dari cukup. Saya menerima penghasilan kotor 2000 euro setiap bulan dan kadang uang ekstra jika klub saya menang. Saya kembali lagi dan tinggal di rumah orang tua saya. Dulu saya berpenghasilan sekitar 46 ribu euro per tahun. Saya sudah mengajukan penyesuaian gaji, tetapi sepertinya tidak akan dikabulkan. 31 Agustus nanti saya akan mendapat kabar dan harus memutuskan apakah seterusnya berhenti dari sepakbola. Saya tidak ingin bekerja di pabrik. Belum lama ini saya mengikuti tes psikologi. Hasil tes menyebutkan, saya dapat melanjutkan kuliah di bidang manajemen, ekonomi atau hukum. Sewaktu saya bermain full-time, jadwal saya hanya terdiri dari latihan diselingi istirahat. Waktu senggang saya isi dengan tenis meja atau duduk di depan TV. Sekarang saya menyesal, waktu yang terbuang itu sebenarnya dapat saya pergunakan untuk belajar.”
‘Tidak biasa jadi pengangguran’
Bas Jacobs (28)
Karirnya dimulai di Roda JC, musim pertandingan lalu bermain untuk Fortuna Sittard.
“April lalu saya membaca di harian Limburgse Dagblad bahwa kontrak saya tidak akan diperpanjang. Betul-betul amatir. Manajer saya baru memberitahukan secara pribadi sebulan kemudian. Saya memutuskan – bersama istri saya – berusaha mencari klub lain, minimal hingga akhir musim dingin nanti. Saya tidak punya ide akan berbuat apa lagi. Saya hanya lulusan sekolah menengah pertama dan sekolah kejuruan teknik. Sejak umur 10 tahun saya cuma tertarik dengan sepakbola. Olahraga adalah hidup saya. Saya berangan-angan bermain di klub internasional. Dua tahun silam – sewaktu berlaga untuk VVV – saya dilirik Inggris. Sayang, saya terluka serius dan harus dikandangkan selama 1,5 tahun. Saya tidak bisa lagi berprestasi optimal. Saat non-aktif sebenarnya saya sudah mulai swa-studi hotel-restoran-café, namun tidak selesai. Sewaktu bergabung dengan Fortuna Sittard saya berpenghasilan kotor 4000 euro per bulan. Aneh rasanya tiba-tiba jadi pengangguran. Ternyata masih ada dunia lain setelah sepakbola.”
‘Ijazah sekolah kejuruan tidak ada artinya’
Pascal Heije (28)
Mula-mula bermain untuk Ajax, kini sudah dua tahun tanpa klub.
“Debut saya dimulai 1999 di Stadion Arena sebagai pengganti Aron Winter. Setelah itu saya sempat bermain satu kali di Liga Utama Belanda. Sayang, waktu itu pelatih Hans Westerhof diganti oleh Co Adriaanse. Setiap pelatih mempunyai visi berbeda. Saya mulai pindah ke RBC, NEC dan Go Ahead Eagles dan klub amatir Willem II. Saya hanya memperoleh uang transpor dari Willem II. Sekarang, saya hidup dari tabungan dana pensiun. Saya tetap berusaha bergabung dengan klub bonafid. Saya pernah magang di Malaysia, Turki dan Austria. Hanya saja, hasilnya tidak memuaskan. Mana ada yang tertarik dengan ijazah sekolah kejuruan? Untungnya, saya dapat membantu bisnis kawan baik saya, Noordin Wooter. Wooter, eks pemain Ajax, memiliki butik dan sebuah klub yang mengorganisasi pertandingan persahabatan bagi anak cacat dan sejenisnya. Kadang saya frustasi. Secara teknis saya masih bermain amat baik seperti dulu. Nasib baik dan nasib buruk berjalan bergandengan.”
*) Sumber dan ilustrasi: Harian De Volkskrant “Ex-voetballers belanden in zwart gat” (19-07-2008)
Jaap - Amsterdam

