Semua Tentang Bola | Members area : Register | Sign in

Other Post :

Video Asyik :

Tak Sportif :

Info Artis :

Hari ini,

Hari ini Rapat akbar Sepakbola nasional

Share Artikel :
JAKARTA- Forum Pengprov PSSI Minggu
(18/12/2011) menggelar Rapat Akbar Sepak bola
Nasional di Grand
Ballroom Hotel Pullman Jakarta Central Park.
RASN tersebut tercetus menyusul keprihatinan
dari Pengurus
Proponsi PSSI terkait karut-marut persepakbolaan
di tanah air
yang tak kunjung reda.
Ketua FPP yang juga Ketua Pengprov Daerah
Istimewa
Yogyakarta, Dwi Irianto mengungkapkan,
pihaknya akan
memanggil semua anggota PSSI yang terdiri dari
580 anggota.
"Sikap dari 29 Pengprov menyatakan sikap
prihatin. Karut marut
dan sangat membingungkan, adanya dualisme
kompetisi,
hukuman klub-klub ISL dan lain sebagainya, itu
bentuk-bentuk
keprihatinan, " katanya di Hotel Borobudur,
belum lama ini.
Walhasil, mereka berharap agar bisa menemui
Ketua Umum
Djohar Arifin untuk bersilaturahmi dan
berkomunikasi
menanggapi masalah ini. Akan tetapi, menurut
Dwi Irianto, hingga
kini tidak ditanggapi oleh Djohar Arifin.
"Kami sudah dua kali datang ke kantor PSSI tapi
tidak ditemui.
Akhirnya kami pulang dan langsung mendakan
pertemuan. Dalam
pertemuan tersebut kami sepakat mengadakan
rapat akbar di
Jakarta," imbuhnya.
"Sedikit banyak kami akan menyampaian kepada
semua yang
hadir bahwa kami sama- sama prihatinan. Inilah
yang akan kami
sampaikan kepada teman-teman klub yang ada,"
paparnya.
Sebelumnya, FPP berencana akan menggelar
rapat akbar di Jakarta
yang rencananya dilakukan 18 Desember 2011.
Ketua FPP yang
juga Ketua Pengprov Daerah Istimewa
Yogyakarta, Dwi Irianto
mengungkapkan, pihaknya akan memanggil
semua anggota PSSI
yang terdiri dari 580 anggota.
"Sikap dari 29 Pengprov menyatakan sikap
prihatin. Carut marut
dan sangat membingungkan, adanya dualisme
kompetisi,
hukuman klub-klub ISL dan lain sebagainya, itu
bentuk-bentuk
keprihatinan, " katanya di Hotel Borobudur,
kemarin.
Sementara itu, Ketua Pengprov PSSI Maluku
Utara, M. Iqbal Ruray
menegaskan RASN tidak menutup kemungkinan
akan menjurus
kepada Kongres Luar Biasa (KLB) untuk
menggulingkan Ketua
Umum PSSI, Djohar Arifin Husin. Hal ini terjadi,
jika permintaan
FPP yang tertuang dalam 10 poin tidak dijalankan
oleh pengurus
PSSI.
"Otomatis KLB jalan terakhir. Kalau terjadi KLB,
maka secara
menyeluruh menyangkut dengan pergantian
pengurus PSSI akan
terjadi," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua
Pengprov DKI Jakarta,
Hardi. Ia menganggap Ketua Umum PSSI, Djohar
Arifin Husin
sudah menjalankan amanahnya sekitar empat
bulan, namun
banyak keputusannya tidak sesuai dengan
konsensus yang telah
disepakati sebelumnya.
"Keputusan Ketum (ketua umum) lebih banyak
melindungi
kelompok tertentu, yang benar dia katakan salah,
yang salah dia
katakan benar. Contoh Persija yang ada
Bambang Pamungkas
dibilang salah dan diganti Jakarta FC, " paparnya.
"Yang dia (Ketua Umum PSSI) pikirkan
menyelamatkan
kepentingan kelompok dengan LPI- nya. Ini bukan
fitnah. Ke depan
kami berpikir, kami mencari seorang Ketum yang
tidak memihak
kepada satu golongan, dia bisa amanah dan
mengayomi seluruh
sepak bola Indonesia," tandasnya.
"Pilihannya KLB atau Djohar Arifin mengudurkan
diri karena sudah
tidak amanah. Saya adalah K-78 yang habis-
habisan mendukung
Djohar Arifin, tapi apakah dengan kenyataan ini
kita tetap dukung.
Tidak, kesalahan Ketum sudah tidak bisa
dimaafkan, tidak ada
rekonsiliasi," pungkasnya.
Mendengar kabar tersebut, PSSI langsung
membantah bahwa
gelaran RASN bukanlah kegiatan resmi PSSI.
Juru bicara PSSI, Eddie Elison menegaskan Rapat
Akbar yang
mengatasnamakan sekelompok Pengurus Provinsi
PSSI dan klub
itu hanya sekedar pertememuan biasa.
"Jadi saudara tentu bisa maklum kalau sampai
terjadi pertemuan
itu, tentu hasilnya pun tidak terkait dengan PSSI,"
katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Legal
PSSI, Finanta
Rudy yang menyebut jika hasil dalam pertemuan
biasa tersebut
ada upaya pelanggaran terhadap Statuta, maka
tentunya akan ada
sanksi terhadap yang bersangkutan.
"Dan itu akan ditindaklanti oleh Badan
Peradilan PSSI,"
imbuhnya.
De originele berichten zijn hier