| SATU MISI: Ketua Umum PSSI terpilih Djohar Arifin Husin (tengah) bersilaturahmi bersama Arifin Panigoro di Jenggala Kebayoran Baru, Jakarta. |
BERAGAM profesi pernah dijalani Djohar Arifin Husin. Mulai pemain sepak bola, wasit, dosen, hingga rektor. Semua dia jalani secara profesional. Djohar yang mengawali karir sepak bola bersama PSL Langkat dengan posisi stoper itu berhasil mengantarkan PSMS Medan menjadi juara Piala Perserikatan pada 1975. Di babak final yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), PSMS mengalahkan Persija Jakarta.
Pensiun dari posisi pesepak bola karena ingin berfokus pada dunia pendidikan, pada 1976 Djohar mulai menekuni perwasitan. Dia meraih sertifikat wasit internasional pada 1981 dan International Football Match Inspector pada 2003. Selama berkarir menjadi wasit, Djohar beberapa kali dipercaya menjadi pengadil di lapangan pada laga-laga penting.
Salah satunya, memimpin final Galatama 1982 yang mempertemukan Niac Mitra dengan Warna Agung di SUGBK. Pada 1981 ayah empat anak itu juga dipercaya memimpin pertandingan level Asia, tepatnya laga Korea Selatan melawan Malaysia. Djohar juga pernah menjadi hakim garis di partai yang mempertemukan Australia dengan Korea Selatan. Setelah menyelesaikan pendidikan jurusan pertanian di USU (Universitas Sumatera Utara), Medan, Djohar melamar pekerjaan di per kebunan PTPN III Sisumut, Kota Pinang, Labuhan Batu Selatan.
Djohar yang otaknya moncer di bang ku kuliah itu diterima sebagai asisten kebun dan menikah pada 1979 dengan kakak salah seorang juniornya di PSMS, Marina. ”Awalnya, saya memang ingin berkarir menjadi ’tukang kebun’ (manajer, Red). Sebab, saya akan bisa punya rumah gedong dan dihormati. Ternyata, setelah kerja di perkebunan, saya merasa tidak kuat dengan realitas yang ada. Saya tidak tega melihat para buruh bekerja begitu keras, tetapi ternyata hanya mendapat bayaran kecil. Itu bertentangan dengan hati nurani saya,” tutur Djohar.
Tak lama berkarir di PTPN III, pada akhir 1979 Djohar memutuskan keluar dan melamar menjadi dosen kopertis dan langsung diterima. Nasib baik, pada awal 1980 ayah Siti Faty Rahmarisa, Siti Fina Rahmarika, Muhammad Ari Taufiqurrahman, dan Siti Fani Rahmarini itu diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dari situlah karir Djohar melesat. Pada 2006 dia diangkat menjadi rektor di Universitas Islam Sumatera Utara.
Karir Djohar di Jakarta dimulai pada 2003, ketika ditarik Agum Gumelar menjadi Sekjen KONI. ”Saya kenal baik Pak Agum ketika beliau menjadi Kasdam di Medan,” jelas Djohar. Lalu, pada 2007–2010, Djohar dipercaya menjadi staf ahli Menpora sebelum akhirnya menjadi ketua umum PSSI periode 2011– 2015.

